Kopi
Sabtu, 06 November 2021
Tambah Komentar
𝕁𝔼ℝ𝔸𝕋 𝕃𝕌𝕂𝔸 ℝ𝕆𝕄𝔸ℕ𝕊𝔸 𝕁𝕀ℕ𝔾𝔾𝔸
(novelet: 𝙊𝙘𝙚 𝙎𝙖𝙩𝙧𝙞𝙖)
(bagian kesembilan: Kafe Kopi Senja)
Ya, ampun, tiba-tiba aku ingat pesan Zein pagi tadi. Ia minta dijemput di workshop-nya, minta di antar ke sebuah toko untuk keperluan meubeler. Duh...
Buru-buru kubuka handphone, mengetikan sebuah pesan untuk Zein.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4175651409211233&id=100002992447380
(next)
𝘋𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘥𝘶
𝘋𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘤𝘶𝘯𝘮𝘶
𝘒𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶
𝘋𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯
𝘈𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢
𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯
𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘴𝘰𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯
𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪
𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢
(Mengapa/ Nicky Astria)
"Aku mungkin ga sempat jemput kamu. Kamu pakai grab aja gak pa pa ya sayang. -emot love-" pesan itu melesat ke workshop Zein.
Ada tusukan ngilu di jantung menyertai enter itu. Ah, entah berapa kebohongan lagi harus kuciptakan karena jeratan masa lalu ini.
Zein tak membalas, seperti biasanya. Ia hanya membaca. Itu artinya ia akan melakukan seperti yang kuminta, pulang tanpa kujemput.
Sedikit tenang, aku melanjutkan fokus ke depan, beringsut di tengah kepadatan lalu lintas. Jalan ini selalu padat, seakan tanpa jeda sejak subuh hingga tengah malam.
Hampir setengah jam, akhirnya aku sampai di Kafe Kopi Senja. Hmmmm....dari luar sudah terlihat kafe ini dipadati pengunjung, terlihat deretan mobil di areal parkir.
Aku tak seharusnya datang ke sini. datang menunaikan ajakan Hisyam yang terlanjur kuiyakan. Itu pun dengan dua emot: senyum pipi merona dan jempol. Kurasa itu bukan reflek karena keterkejutan. Tapi memang aku sendiri yang membuat otakku memerintahkan membalas pesan Hisyam dan menyetujui ajakannya.
Naysa, kamu bukan mahasiswi jomblo yang sibuk menabung harap setiap lelaki yang kau impikan melemparkan senyum, lalu melayang-layang sembari memupuk khayalan. Tak ada argumen norma yang harus kau pertimbangkan untuk merasa keliru dengan hal itu. Tapi ini, kamu adalah tuan rumah dari sebuah ikatan perkawinan, permaisuri dari lelaki yang mati-matian mengejarmu, mengkhitbah, menjawab ijab dari ayahmu, dan kini telah menghadiahimu permata-permata. Kamu adalah inang permata-permata titipan Zein.
Berlalu-lalang narasi-narasi kebenaran di kepalaku. Namun sesuatu yang entah telah mengibaskan narasi-narasi itu. Aku sudah berhadapan dengan Hisyam.
Hisyam sendiri yang menarik kursi dan meluangkan tempat. "Silakan, Cha."
Masih dilanda kikuk dan sedikit nervous, sepatah kata pun tak mampu kulontarkan. Aku mendadak serupa remaja SMA yang grogi di perjumpaan pertama dengan kakak kelas yang naksir aku dan aku pun begitu. Hisyam serupa sedang PDKT.
"Aku sudah pesankan kopi hitam. Dua. Aku tahu seleramu, dan belum berubah kan?" ia berkata dengan harmoni yang tak tersendat. Ia tak mengalami shock seperti yang aku rasakan. Heii, apakah hanya aku yang dilanda kikuk yang seperti ini, sementara Hisyam hanya menganggap ini perjumpaan biasa layaknya perjumpaan kembali teman lama. Ya, teman lama. Bukan mantan pacar. Oh, Tuhan, apakah aku saja yang kegenitan sejak tadi? Sejak beberapa bulan ini?
"Kamu tahu banget, ya?" akhirnya aku mengujar, merespon Hisyam.
"Tentu saja. Kamu pacar aku, eh maksudku mantan pacarku. Segala tentangmu kuarsip rapi."
"Kamu memang taat administrasi."
Hisyam terbahak. Aku tidak.
"Iya, aku memang taat administrasi," jawabnya.
"Tapi tak taat janji."
Hisyam mendelik, kaget.
"Kamu masih memperkarakan hal itu. Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu, dulu? Dan kita berakhir baik-baik. Kamu sendiri yang bilang bahwa kamu paham situasiku. Itu yang membuatku pergi tanpa beban."
"Wow, tanpa beban? Kamu meninggalkanku tanpa beban?"
"Eh, bukan itu maksudku. Begini. Aku menjalani perpisahan kita dengan sedikit lebih lega karena kamu sudah mengikhlaskan, setelah kubeberkan alasannya."
"Memang ada perempuan di dunia ini mengikhlaskan cintanya yang direnggut perempuan lain?"
"Aduhh, Cha. Kamu salah memahami. Ikhlas yang kumaksud bukan itu. Adu, bagaimana ya menjelaskannya. Maksudku...."
"Lelaki selalu berpura-pura ingin menjelaskan apa yang sebenarnya tidak sanggup ia jelaskan. Lelaki selalu terjebak dengan ulah dan kata-katanya sendiri. Lalu kalang kabut menyusun alibi."
Dua cangkir kopi diantarkan perempuan muda pelayan kafe. Ini sebenarnya tak tepat disebut kafe. Ini hanya semacam kedai kopi biasa.
"Kita ngopi dulu, Cha.dari pada bertengkar hal-hal yang memang tak perlu dipertengkarkan. Ini temu kangen, Cha...."
Hisyam mengangsurkan cangkir kopi ke dekatku. Tangannya terlihat masih seperti dulu, kokoh dan menampakkan tonjolan samar urat-uratnya.
Aku tersedak. Tiba-tiba malu sendiri. Mengapa aku begitu baperan dengan tiap kata yang ia lontarkan, dan bereaksi sebegitu bernafsu memulai front dengan Hisyam, padahal ia hanya sekadar mengajakku minum kopi sore? Tapi mengapa tidak boleh?
"Istri dan anak-anakmu ikut pindah ke sini?" aku mulai agak tenang, sambil mencoba satu kecupan di bibir cangkir.
"Maunya aku semuanya boyongan ke sini. Tapi ngurus anak pindahn sekolah repotnya bukan main."
"Bukannya kamu bisa minta bantuan orang-orang dinas? Lebih gampang, kan?"
"Iya, gampang. Tapi anak-anak enggan melepas kelekatan mereka dengan lingkungan di sana, dan yaa, kupikir teman-teman mereka."
"Istrimu?"
"Dia malah yang paling enggan ikut ke sini. Sama seperti anak-anak, dia terlanjur menyukai pertemanan di sana."
Sejak ia menghilang duapuluh delapan tahun lalu, aku tak bisa seratus persen mengangguk untuk setiap ucapannya. Bagiku laki-laki sama saja. Mungkin algoritma dalam susunan di otak mereka memberikan banyak peseudo-code. Mererka bebas mengeksplorasi kebohongan, sementara aku, perempuan, selalu tergugup dan emosional.
Tapi, heiii, Naysa. Kamu baru saja membohongi Zein...
Bukk! kepalaku sedikit oleng. Buru-buru kuraih cangkir, pura-pura memperhatikan elemen di dalammya. Menghindar agar Hisyam tak membaca diriku.
(next)
"
Belum ada Komentar untuk "Kopi"
Posting Komentar